Kita Dekat Dengan Bapa Di Sorga

 KITA DEKAT DENGAN BAPA DI SORGA


Matius 6:6

Berdoalah kepada Bapamu.

Sebagian besar dari kita mengenal dengan baik Doa Bapa Kami dalam Matius 6:9-13. Namun, ayat-ayat yang mendahuluinya juga sama pentingnya, karena menjadi dasar untuk kalimat-kalimat doa yang mengikutinya. Kita berdoa bukan untuk pamer, supaya _dilihat orang_ (ay.5). Meski tidak ada batasan mengenai panjang doa kita, _banyaknya kata_(ay.7) tidak serta-merta menjadikan sebuah doa berkualitas. Penekanannya adalah terletak pada upaya kita _memelihara hubungan yang sungguh sungguh dengan Bapa kita_, yang sudah mengetahui apa yang kita perlukan sebelum kita minta kepadaNya(ay.8). Yesus menekankan bahwa sungguh baik bagi kita untuk tetap terhubung dengan Bapa kita. Jadi, Dia memerintahkan kita: Karena itu, berdoalah demikian . . .(ay.9).

Doa adalah pilihan yang baik dan penting, karena dengan doa, kita tidak kehilangan kontak atau hubungan baik dengan Allah Bapa kita. Doa adalah kehidupan kita sehingga kita senantiasa berdoa karena kita membutuhkan Tuhan Yesus untuk menolong kita. Kita senantiasa bergantung penuh kepada Tuhan Yesus.

Dalam Matius 6:1-8, Yesus menekankan bahwa hidup bagi Allah harus dilakukan dengan rendah hati, tanpa berusaha untuk kemuliaan kepada diri sendiri atau memperoleh pujian. Kita harus bersikap rendah hati ketika memberi untuk menolong orang yang membutuhkan (ay.1-4) dan ketika berdoa (ay.5-8). Sepintas lalu, hal itu tampaknya berkontradiksi dengan 5:14-16, yang menekankan bahwa hidup murid-murid Yesus haruslah bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (ay.16). Namun, sebenarnya tidak ada kontradiksi, karena ketika orang percaya melayani Tuhan dengan kerendahan hati yang keluar adalah kasih kepadaNya dan kepada sesama, terangNya yang menyinari dunia akan timbul secara alamiah. Namun, ketika pelayanan dan doa dimotivasi oleh hasrat untuk memperoleh kemuliaan diri sendiri dan pujian, bisa jadi akan timbul dampak yang berlawanan karena merasakan adanya motivasi yang egois dan munafik (6:5)

Mari kita yg dewasa dalam iman terus hidup menyenangkan hati Tuhan, senantiasa berdoa dan dekat dengan Tuhan. Tuhan menjadi yg utama dalam hidup kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perwujudan Dari Iman

Perkataan Yang Baik

Hal Yang Kecil