Menjaga Komitmen Di Dalam Tuhan
MENJAGA KOMITMEN DI DALAM TUHAN
1 Tesalonika 5:19
Janganlah padamkan Roh.
Dalam 1 Tesalonika, Paulus menuliskan bagaimana Allah membuat pesan Injil disampaikan “bukan . . . dengan kata² saja, tetapi juga dengan kekuatan oleh Roh Kudus dan dengan suatu kepastian yang kokoh” (1:5). Ketika sebagai orang percaya kita menerima pengampunan dari Allah, kita juga terhubung langsung dengan kuasa RohNya dalam hidup kita. Kuasa itu menumbuhkan karakter² di dalam diri kita seperti kasih, sukacita, damai sejahtera, dan kesabaran (Gal. 5:22-23). Kuasa Roh juga memperlengkapi kita dengan karunia² untuk melayani umat Tuhan, seperti mengajar, menolong, dan membimbing mereka (1Kor. 12:28).
Alkitab mengingatkan bahwa mungkin saja seseorang “memadamkan Roh” (1Tes. 5:19). Bisa jadi kita membatasi kuasa Roh dengan mengabaikan kehadiran Allah atau menolak teguranNya (Yoh. 16:8) Jangan sampai kita hidup terputus dari hubungan denganNya. Kuasa Allah selalu tersedia bagi anak²Nya. Yesus Kristus sanggup memberikan pertolongan dan perlindungan Nya bahkan DIA memberikan kekuatan bagi kita. Persoalan² jangan membuat kita lemah.
Pada zaman Paulus, Tesalonika adalah ibukota distrik kedua Romawi di Makedonia. Kota itu merupakan pusat perdagangan besar dan tempat Rasul Paulus tinggal setelah ia ditangkap dan didera di Filipi (Kisah Para Rasul 16). Bersama rekan sekerjanya, Silas dan Timotius, mereka mendirikan jemaat di sana setelah Injil dikhotbahkan di rumah ibadat selama tiga hari Sabat berturut-turut (17:1-9). Meski orang-orang Yahudi di sana menentang Paulus dan rekan-rekannya, sejumlah besar orang Yunani yang takut kepada Allah(orang bukan Yahudi yang memeluk agama Yahudi, ay.4) menerima Injil, sehingga mereka menjadi inti jemaat baru yang terbentuk di sana.
1 Tesalonika ditulis oleh Paulus di Korintus sekitar awal dekade 50 M. Paulus dengan hangat memuji orang-orang percaya atas kesetiaan dan komitmen mereka kepada Kristus (1:4-10). Pujian itu membuat sebagian orang menyebut Tesalonika sebagai “jemaat abad pertama yang ideal”.
Mari kita tetap menjaga semangat dan komitmen kita dalam Tuhan, kita tidak mudah untuk putus asa bahkan kita tidak akan pernah acuh tak acuh terhadap Tuhan, karena kita tidak akan berani hidup tanpa Tuhan, sesungguhnya kita menyadari akan menjadi sangat mengerikan bila kita meninggalkan Tuhan Yesus. Yesus Kristus adalah hidup kita. Tujuan utama hidup kita adalah kehidupan kekal bersama Tuhan Yesus.
Komentar
Posting Komentar