Ketenangan
KETENANGAN
1 Raja raja 19:12
Sesudah api itu datanglah bunyi angin sepoi-sepoi basa.
Ditengah dunia yang bising dan sibuk ini, adakalanya kita merindukan sedikit keheningan. Bahkan berita yang kita tonton dan media sosial yang kita konsumsi menciptakan semacam “kebisingan” yang bersaing untuk menarik perhatian kita. Banyak dari kebisingan itu dipenuhi dengan kata² dan gambar yang memancing emosi negatif. Semua itu akan membuat kita gagal mendengar suara Allah.
Ketika Nabi Elia pergi untuk bertemu Allah di Gunung Horeb, ia tidak menemukan Allah dalam angin besar, gempa, ataupun api (1Raj. 19:11-12). Namun, saat Elia mendengar “bunyi angin sepoi-sepoi basa”, barulah ia menyelubungi wajahnya dan keluar dari gua untuk bertemu dengan “Tuhan, Allah semesta alam” (ay.12-14). Dalam doa kita bertemu Tuhan membutuhkan suasana yang tenang dan penuh percaya.
Jiwa kita mendambakan keheningan, tetapi lebih dari itu, jiwa kita rindu mendengar suara Tuhan. Carilah ruang hening atau ketenangan dalam kehidupan kamu supaya kamu takkan pernah melewatkan “suara yang kecil lembut” dari Allah (ay.12 bis).
Dalam pertemuan kita dengan Tuhan di tengah gelombang persoalan hidup di tengah hiruk-pikuk dunia maka ketenangan di butuhkan untuk kita merasakan hadir Nya Tuhan. Alkitab mencatat bahwa ketika kita doa harus masuk ke dalam kamar. (ketenangan).
Elia, yang namanya berarti “Allahku adalah Yahwe”, melayani Israel, Kerajaan Utara, selama dua puluh dua tahun masa pemerintahan Ahab (874–853 SM). Ahab, bersama Izebel, istrinya dari Sidon, menggiring umat Israel untuk menyembah Baal dan membunuh nabi-nabi Allah (1 Raja-Raja 16:29-34; 18:4). Pelayanan Elia sebagai nabi menjadi teladan ketika ia menghadapi 450 nabi Baal di Gunung Karmel, dengan menunjukkan bahwa Yahwe adalah Allah sejati dan memanggil Israel kembali kepada-Nya (18:16-21). Elia tidak mati, melainkan diangkat ke surga dalam angin badai (2 Raja-Raja 2:1,11). Pada waktu Yesus dimuliakan di atas gunung, Elia pun muncul bersama Musa (Matius 17:3).
Ketika hati kita tenang kata Firman TUHAN di situ lah kekuatan kita, tanpa ketenangan kita tidak bisa berdoa, maka hati yang tenang menandakan kita senantiasa kuat dalam Tuhan karena kita percaya dan penuh iman kepada janji Tuhan.
Komentar
Posting Komentar