HADIRAT ALLAH
HADIRAT ALLAH
Keluaran 33:11
Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya.
Mencari hadirat Allah adalah sesuatu yang dilakukan Musa dengan baik dalam hidupnya. Memimpin suatu bangsa yang “tegar tengkuk” (Kel. 33:5) mendorong Musa untuk sering menarik diri demi mencari ketenangan dan bimbingan di hadirat Allah. Di dalam “Kemah Pertemuan” itu (ay.7), “Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya” (ay.11). Tuhan Yesus juga sering “mengundurkan diri ke tempat² yang sunyi dan berdoa” (Luk. 5:16). Baik Tuhan Yesus maupun Musa menyadari pentingnya meluangkan waktu seorang diri bersama Bapa.
Kita juga perlu membangun waktu² untuk dekat dengan Tuhan dalam hidup kita, semacam ruang yang terbuka lebar untuk diisi dengan beristirahat dan berada di hadirat Allah. Menghabiskan waktu bersamaNya akan memampukan kita mengambil keputusan² yang lebih baik dan menciptakan ruang dan batasan yang lebih sehat dalam hidup kita agar kita memiliki kapasitas yang dibutuhkan untuk mengasihi Allah dan sesama dengan baik.
Kesibukan duniawi tidak akan ada habisnya, karena dunia menawarkan banyak hal yg menyenangkan bagi manusia sehingga terikat sehingga pada akhirnya tak terkendali yg mengakibatkan keserakahan dan kehancuran manusia itu sendiri.
Marilah mencari Allah di hadiratNya BAGAIKAN ruang terbuka dengan udara sorgawi yg menyejukkan jiwa. Kita sangat membutuhkan hadirat Tuhan untuk kekuatan kita berjalan bekerja dalam dunia ini, kita membutuhkan kekuatan dari sumber supranatural yang di dapat dalam hadirat Allah.
Musa berbicara dengan Allah “dengan berhadapan muka seperti seorang berbicara kepada temannya” (Keluaran 33:11). Allah menekankan keistimewaan itu ketika menegur Harun dan Miryam dan berkata, “Berhadap-hadapan Aku berbicara dengan Musa” (Bilangan 12:8).
Sama Tuhan senang ketika kita menghampiri Nya dengan kerinduan yang dalam, kita berhadapan muka dalam roh dan kebenaran.
Namun, Musa bukanlah satu-satunya orang yang mempunyai hubungan yang sedemikian dekat dengan Allah. Abraham juga disebut “sahabat Allah” (2 Tawarikh 20:7; Yesaya 41:8; Yakobus 2:23). Sekarang pun, karena Kristus, keistimewaan itu juga kita miliki. Yesus berkata, “Kamu adalah sahabatKu, jikalau kamu berbuat apa yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, . . . tetapi Aku menyebut kamu sahabat” (Yohanes 15:14-15).
Hubungan kita dengan Tuhan adalah hubungan pribadi yang sangat dalam dan dekat sekali, dan hal itu tidak dapat di gantikan dengan hal² yang lain. Sampai detik ini dan selamanya mari terus lekat dekat dengan Tuhan, Dialah sumber kekuatan dan pengharapan kita yang sejati dan sempurna.
Komentar
Posting Komentar