Hukum KASIH
HUKUM KASIH
Matius 12:12
Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba?
Kaum Farisi menilai tindakan Yesus menyembuhkan seorang yang lumpuh sebelah tangan telah melanggar peraturan yang mereka pegang. Kristus mengatakan kepada mereka bahwa bila umat Allah diperbolehkan menolong hewan peliharaan mereka yang terancam bahaya di hari Sabat, “Bukankah manusia jauh lebih berharga dari pada domba?” (Mat. 12:12). Karena Dia Tuhan atas hari Sabat, Yesus berhak menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada hari Sabat (ay.6-8). Meski tahu bahwa tindakanNya akan menyinggung para pemuka agama, Yesus tetap memulihkan tangan orang itu (ay.13-14). Di dalam hidup kita pun mengerti bahwa Tuhan dia atas segalanya dalam hidup kita, sehingga kita hidup penuh tanggungjawab kepada Tuhan Yesus, dan bukan pada peraturan manusia yang mengikat tetapi kita mengerjakan nya karena semua untuk Tuhan.
Terkadang orang percaya juga dapat mengalami “kesulitan yang baik” karena menolong orang yang membutuhkan. Melakukan hal yang memuliakan Allah, tetapi mungkin sebagian orang tidak menyukainya. Ketika kita mengalami hal tersebut, tindakan yang seturut kehendak Allah, kita sedang meniru Tuhan Yesus dan menunjukkan bahwa manusia lebih berharga daripada segala peraturan dan ritual yang mengekang. Tetaplah melakukan apa yang sesuai dengan Firman TUHAN.
Orang Farisi mengusik Tuhan Yesus tentang setiap aspek hukum Taurat. Dalam Matius 12, mereka mempertanyakan mengapa murid-muridNya memetik bulir gandum dan memakannya di hari Sabat (ay.1-2). Para pemuka agama itu ingin menegakkan hukum Taurat di atas segalanya, tetapi Kristus menegaskan bahwa hukum Taurat, sebagaimana dikehendaki Bapa, sepatutnya untuk mengarahkan umat Allah untuk berbuat kasih dan berbelaskasihan, dan bukan menghakimi sesamanya. Inilah yang sering terjadi peraturan yang di buat kadang untuk menghakimi satu sama lain. Diamanapun dan kapan pun kita dapat melakukan dan mempraktekkan kasih kepada sesama sehingga nama Tuhan di permuliakan.
Tuhan Yesus mengutip Hosea 6:6, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran.” Sejak Perjanjian Lama, Allah menginginkan umatNya untuk mengasihi Dia dan sesama (Imamat 19:18; Ulangan 6:4-5). Namun, begitu parahnya gagal paham yang dialami orang Farisi sampai² mereka malah bersekongkol untuk membunuh Yesus segera setelah mendengar pengajaran Tuhan Yesus tentang hari Sabat (Matius 12:14). Akan tetapi melalui kematian Kristuslah yaitu pengorbanan Nya membawa kebebasan dari hukum Taurat dan pencurahan belas kasihan Allah kepada semua orang yang percaya.
Hidup yang selalu melakukan kehendak Tuhan dengan kesadaran yang benar melakukan kasih di tengah adat istiadat manusia, kita melakukan perbuatan kasih kepada sesama untuk kemuliaan Tuhan, ketika kita melakukan kasih maka disitulah kita telah melakukan hukum taurat. ( Matius 22:37-40)
Komentar
Posting Komentar