Memberi
MEMBERI
Amsal 11:25
Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.
Dunia memberikan dan mendorong orang mencari kepuasan dan kenyamanan diri, kita bisa tergoda untuk memperkaya diri sendiri. Alkitab berkata bahwa “yang menyebar harta . . . bertambah kaya” (Ams. 11:24). Budaya kita mendefinisikan kemakmuran memiliki lebih banyak dan banyak lagi, tetapi Alkitab berkata, “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan” dan “siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum” (ay.25).
Budaya kan untuk memberi karena itu yang di ajarkan Tuhan sehingga kita menjadi orang yang tidak berpotensi serakah dalam dunia ini.
Kasih dan kemurahan Allah yang tak terbatas dan tak bersyarat terus-menerus. Setiap dari kita dapat memiliki hati yang rela memberi sehingga tercipta siklus kemurahan hati yang tak pernah berhenti. Itu karena kita sadar bahwa Allah Sang Pemberi segala yang baik tak jemu-jemu memberikan berkatNya dengan berlimpah.
Mari sikap yang baik dan memberkati menjadi budaya kita anak anakNya yang selalu memberi dan selalu menjadi teladan dalam segala hal di mana kita berada, orang akan menganggungkan Tuhan karena hidup kita.
Amsal 10–22 adalah kumpulan peribahasa hikmat pribadi yang dikumpulkan oleh Salomo. Dalam Amsal 10–15, kebanyakan amsal muncul dalam bentuk kontras, yaitu ketika sebuah pilihan bijak dinasihatkan lalu dibandingkan dengan hasil yang buruk dari suatu perilaku bodoh. Tidak mudah untuk mengenali benang merah dalam amsal² ini, tetapi dalam bagian kedua dari pasal 11, kita bisa melihat jelas tema kekayaan dan pemakaiannya yang pantas. Di ayat 15 kita diperingatkan agar tidak menggunakan kekayaan kita untuk menanggung orang asing, dan diingatkan bahwa bersikap waspada dalam membuat komitmen adalah tindakan yang bijak. Di ayat 16, kekayaan dibandingkan dengan kehormatan, dengan kekayaan dipandang sangat rendah. Ayat 18 memperingatkan bahaya “laba yang sia-sia” dan sebaliknya menjunjung “pahala yang tetap.” Kemudian di ayat 24, seorang yang murah hati “bertambah kaya”, sedangkan yang kikir “selalu berkekurangan.”
Bersyukur kita menjadi orang yang murah hati yang memiliki hati yang memberkati orang lain, semua yang kita lakukan bukan karena kita tetapi karena Firman TUHAN mengajarkan kepada kita sehingga kita menjadi pelaku² Firman. Semua bukan untuk kesombongan tetapi untuk kemuliaan Tuhan.
Komentar
Posting Komentar