Jiwa Yang Kuat
JIWA YANG KUAT
Mazmur 6:3-4
Kasihanilah aku, Tuhan sebab aku merana sembuhkanlah aku, Tuhan, sebab tulang-tulangku gemetar, dan jiwaku pun sangat terkejut; tetapi Engkau, Tuhan, berapa lama lagi
Bekas luka yang tak kasatmata adalah kepedihan mendalam dan menyakitkan yang tak terlihat dari luar tetapi yang masih menimbulkan rasa sakit dan penderitaan yang sangat nyata. Dalam Mazmur 6, Daud menulis tentang pergumulannya yang mendalam dengan kata² pedih yang jujur dan apa adanya. Ia merasa “merana” (ay.3) dan “gentar” (ay.4 ayt). Ia “lesu” karena mengeluh, dan tempat tidurnya dibanjiri air mata (ay.7). Meski Daud tidak mengatakan apa yang menyebabkan penderitaannya, banyak dari kita dapat memahami rasa sakitnya.
Kita juga dapat dikuatkan oleh cara Daud menanggapi rasa sakitnya. Di tengah penderitaannya yang tak tertahankan, Daud berseru kepada Allah. Dengan tulus ia mencurahkan isi hatinya, berdoa memohon diberikan kesembuhan (ay.3), penyelamatan (ay.5), dan belas kasihan (ay.10). Bahkan dengan pertanyaan “Berapa lama lagi?” (ay.4) yang membayang-bayangi situasinya, Daud tetap yakin bahwa Allah “telah mendengar permohonannya” (ay.10) dan akan bertindak pada waktuNya (ay.11). Kita pun yakin akan pertolongan Tuhan, di tengah pergulatan hidup yang mungkin menggoreskan sakit dalam batin dan hati kita.
Pengharapan selalu ada saat kita mengingat siapa Allah kita. Dan Tuhan yang membalut luka kita sehingga kita melepaskan semua pengampunan dan membuang semua kepahitan.
Keterangan pada ayat pertama dari Mazmur 6 menjelaskan bahwa mazmur itu ditulis oleh Daud, tetapi tidak ada informasi apa pun tentang apa yang mendorongnya menulis puisi itu. “Mazmur ini termasuk dalam kelompok mazmur pertobatan. Daud telah menderita suatu penyakit yang menyebabkannya nyaris mati. Namun, sulit menghubungkan mazmur ini dengan kejadian tertentu yang kita ketahui tentang hidupnya.”
Mazmur pertobatan adalah sebuah kidung penyesalan, dengan pemazmur yang memohon pengampunan (lihat ayat 3,5). Akan tetapi, Mazmur 6 juga mengandung ratapan yang besar, ketika Daud meratapi apa yang dialaminya dari tangan musuh-musuhnya. Untuk itu jugalah ia memohon kasih karunia dan belas kasihan Allah. Meski kita tidak tahu persisnya apa yang mendorong penulisannya, mazmur tersebut terasa sangat pribadi, karena sang penulis mengungkapkan kondisi jiwanya apa adanya kepada Allah dan dunia.
Sungguh nyata pertolongan Tuhan dalam hidup kita, Tuhan Yesus yang membalut dan menyembuhkan luka² kita sehingga semua sudah terlupakan dan yang ada adalah sukacita dan pembebasan dari rasa kepahitan.
Komentar
Posting Komentar