Hak KESULUNGAN
HAK KESULUNGAN
Kejadian 25:29-30
Ketika Yakub sedang memasak sayur kacang merah, datanglah Esau . . . Katanya kepada Yakub: “Saya lapar sekali.”
Kejadian 25 bercerita bagaimana Esau sedang kelelahan dan sangat membutuhkan makanan. Ia berkata kepada adiknya, “Saya lapar sekali. Minta sedikit kacang merah itu” (ay.30). Yakub menanggapinya dengan meminta hak kesulungan Esau (ay.31). Hak kesulungan memberikan kedudukan istimewa, berkat dari janji-janji Allah, dua pertiga dari warisan, dan kehormatan untuk menjadi pemimpin rohani dalam keluarga. Esau menuruti nafsunya dengan “makan dan minum” dan “meremehkan haknya sebagai anak sulung” (ay.34).
Ketika godaan menghampiri dan hasrat diri menguasai, maka hawa nafsu mengarahkan kita pada kesalahan dan dosa yang merugikan, marilah kita berpaling kepada Bapa kita di surga hanya Dia yang dapat memuaskan jiwa yang lapar “dengan FIRMAN Tuhan ” (Mzm. 107:9).
Dalam dunia Alkitab, hak kesulungan seorang anak laki-laki mencakup hak-hak istimewa dalam hal materi maupun rohani. Sang anak sulung berhak mendapatkan dua kali lipat dari warisan ayahnya (Ulangan 21:17). Lebih penting dari itu, anak sulung menjadi kepala dan pemimpin rohani dari keluarga tersebut. Garis keturunan dilanjutkan melalui sang anak sulung, meskipun anak laki-laki lainnya juga disebutkan (lihat 1 Tawarikh 7:1-4). Dalam kasus Yakub dan Esau, hak kesulungan menentukan siapa yang akan mewarisi berkat dari perjanjian Allah dengan Abraham warisan tanah, bangsa, dan garis keturunan yang akan melahirkan Sang Mesias. Meskipun Yakub menghargai hak kesulungan tersebut, ia merebutnya dari esau melalui penipuan (Kejadian 27:35-36). Namun, kerelaan Esau untuk meninggalkan hak kesulungan rohaninya demi kepuasan fisik yang langsung didapatkan menunjukkan bahwa ia “memandang ringan” hal-hal rohani (25:34), dan dengan demikian membuatnya tidak masuk bagian dalam garis keturunan Mesias yang akan datang. Ia dianggap “tidak menghargai hal-hal rohani” (Ibrani 12:1-6).
Kita menjadi anak anak sulung yg diberikan hak istimewa, mari kita menjaganya tidak seperti esau menjualnya dengan bubur kacang merah karena nafsu kedagingan yg menguasainya. Hati yang senantiasa melekat kepada Tuhan Yesus menjaga hidup yg senantiasa berkenan dan tetap dalam kehendak Nya.
Komentar
Posting Komentar