Kaya Di Dalam Tuhan

KAYA DI DALAM TUHAN

Pengkhotbah 5:12

Ada kemalangan yang menyedihkan kulihat di bawah matahari: kekayaan yang disimpan oleh pemiliknya menjadi kecelakaannya sendiri

Raja Salomo, orang terkaya pada zamannya, menulis, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang,” dan “dengan bertambahnya harta, bertambah pula orang-orang yang menghabiskannya” (Pkh. 5:9-10). Salomo sadar betul bahwa kekayaan bisa membawa pengaruh yang merusak hidup seseorang.

Rasul Paulus juga memahami godaan kekayaan dan memilih untuk mengabdikan hidupnya dalam ketaatan kepada Tuhan Yesus. Saat menantikan hukuman mati dalam tahanan Romawi, ia menuliskan kata-kata penuh kemenangan, “Darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan . . . aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman” (2Tim. 4:6-7).

Yang akan bertahan abadi bukanlah sesuatu yang dipahat pada batu atau harta yang kita timbun untuk diri sendiri, melainkan apa yang kita berikan dari kasih kita kepada sesama dan kepada Allah pribadi yang menunjukkan bagaimana kita dapat hidup dalam kasih. Kita boleh kaya tetapi harus  menjadi orang yang mampu mengelola kekayaan itu dengan penuh tanggungjawab karena memang bukan milik kita tetapi semuanya adalah milik Allah. Yang kita cintai adalah Allah, bukan harta.

Dalam Kitab Pengkhotbah, Salomo berbicara banyak mengenai kekayaan materi. Ia juga menulis sekitar seratus ucapan bijaksana dalam Kitab Amsal mengenai kekayaan dan uang. Kekayaan materi dapat menjadi berkat (Amsal 10:22) atau sebaliknya kutuk (30:7-9), tergantung bagaimana seseorang berelasi dengannya (lihat Ulangan 8:7-19). Allah memperingatkan kita untuk tidak meraup kekayaan dengan berbuat jahat atau dengan cara-cara yang tidak adil (Amsal 15:27; 22:16; 22:22-23). Yang kita cari seharusnya kebijaksanaan daripada kekayaan (3:13-15; 8:10-11; 16:16), karena hidup yang saleh lebih baik daripada hidup yang nyaman. Hidup yang benar lebih baik daripada hidup yang kaya raya (15:16; 16:8; 28:6). Uang adalah komoditas fana yang memberikan rasa aman yang palsu (23:4-5; 27:24; Pengkhotbah 5:9-10). kita perlu berinvestasi dalam kekekalan. Yesus berkata, “Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi . . . pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di sorga” (Matius 6:19-20). 

Harta yang kita punya tersimpan di sorga, yaitu kita memuliakan Tuhan dengan seluruh hidup kita bahkan harta yg kita punya untuk kemuliaan Tuhan, kita bersyukur memahami kekayaan bukan segalanya, tetapi segalanya adalah Tuhan

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perwujudan Dari Iman

Perkataan Yang Baik

Hal Yang Kecil