PRIBADI YANG PENUH KASIH
PRIBADI YANG PENUH KASIH
1 Yoh 4:19
Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.
Yohanes menegaskan bahwa teladan kasih yg diajarkan Tuhan Yesus kepada kita memberi dorongan kuat untuk mengasihi Tuhan dan sesama kita (1Yoh. 4:19). Kasih Allah memberi rasa aman yang memperkuat hubungan pribadi denganNya (ay.15-17). Ketika menyadari kedalaman kasihNya (ay.19), kita dapat bertumbuh dalam kasih kepadaNya dan juga menunjukkan kasih dalam hubungan-hubungan dengan orang lain (ay.20). Tuhan Yesus tidak hanya memampukan kita untuk mengasihi, tetapi juga memerintahkan untuk mengasihi: “Dan perintah ini kita terima dari Tuhan sendiri: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya” (ay.21). Kasih dan mengasihi menjadi gaya hidup orang percaya yang akhirnya hidup nya menjadi teladan dan berkat, memuliakan Tuhan Yesus.
Injil Yohanes; Surat-surat 1, 2, dan 3 Yohanes; serta Kitab Wahyu ditulis oleh Rasul Yohanes( Markus 3:17). Ia menyebut dirinya sendiri sebagai “murid yang dikasihi Yesus” (Yohanes 13:23; 19:26). Namun, Yohanes tampaknya sangat meyakini, bahkan mungkin takjub pada kenyataan bahwa Kristus mengasihi dirinya yang penuh dengan kelemahan. Dalam bagian Alkitab yang kita baca hari ini, Yohanes menyerukan: “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8,16). Oleh karena kasihNya yang sempurna, kita tidak usah mengkhawatirkan masa depan yg kekal (ay. 17-18). Dengan mati di kayu salib, Tuhan Yesus memberikan hidup, dan akhirnya kita hidup bersamaNya (ay. 9-10; Yohanes 3:16). Tidak ada sesuatu pun yang dapat memisahkan orang percaya dari kasih Allah (Roma 8:38-39). Sebagai balasannya, kita dipanggil untuk mengasihi sesama (1 Yohanes 4:11,20-21). Melalui Roh Kudus, kita mempunyai jaminan akan kasihNya dan dimampukan untuk mengasihi orang lain (ay. 13; Roma 5:5; Galatia 5:22).
Pribadi yang penuh dengan kasih selalu menjadi berkat dan memulihkan Tuhan, itulah hidup anak anak Tuhan
Komentar
Posting Komentar