SIA SIA YANG TAK BERUJUNG KARENA HAWA NAFSU
SIA SIA YANG TAK BERUJUNG KARENA HAWA NAFSU
Pengkhotbah 3:11
Allah memberikan kekekalan dalam hati mereka
Salomo menyadari bahwa dunia ini memang sarat dengan kesusahan. Benar sekali, “untuk segala sesuatu ada masanya” (Pkh. 3:1) ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari” (ay.4). Namun, bukan itu saja. Allah bahkan “memberikan kekekalan dalam hati manusia” (ay.11). Kekekalan itu dimaksudkan Allah untuk manusia hidupi dalam hadiratNya, kehendak Nya
Ketika percaya kepada Yesus, menerima kehidupan. (Yoh. 10:10). Namun, sesungguhnya menerima jauh lebih banyak. Dengan iman, yaitu “kekekalan dalam hati” (Pkh. 3:11) menjadi jaminan akan masa depan yang terbebas dari pergumulan hidup (Yes. 65:17) dan bahwa hadirat Allah yang mulia akan menjadi kenyataan yang abadi. Kekekalan bersama Tuhan dimulai dari hadirat Tuhan yg kita sentuh melalui penyembahan kepada Allah, sampai kepada melakukan kehendak Bapa.
Pengkhotbah tidaklah seperti kitab-kitab Hikmat lain dalam Perjanjian Lama. Pengkhotbah memiliki beberapa ide utama. Kata sia-sia (1:2) muncul berkali-kali dan berarti “hampa” atau “tidak berarti.” Istilah lain adalah di bawah matahari (ay. 3). Artinya “menurut sistem atau nilai-nilai dunia ini.” Ungkapan lain yang sering diulang adalah “menjaring angin” (ay. 14). Frasa ini adalah perumpamaan yang menggambarkan usaha yang dikeluarkan tanpa hasil.
Manusia mengejar segala keinginan hati nya, tetapi akhirnya sia sia karena hanya untuk pemuasan hawa nafsu.
Ditengah kehidupan yang banyak persoalan karena dunia adalah jahat, kita hanya bersandar dan berserah kepada Allah
Komentar
Posting Komentar