Mengasihi Tanpa Pamrih
Lukas 10:37
Kata Yesus kepadanya: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Dalam percakapan dengan seorang ahli Taurat, Yesus mendefinisikan ulang konsep kasih kepada sesama (Luk. 10:25-37). Ketika diminta Yesus untuk menafsirkan hukum Taurat yang ia kuasai dengan baik, ahli Taurat tersebut menjawab: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (ay.27).
Kemudian Yesus bercerita tentang dua pemimpin agama yang mengabaikan seorang korban perampokan. Namun, seorang Samaria yang dipandang lebih rendah oleh kebanyakan pemimpin Yahudi zaman itu justru rela berkorban untuk menolong orang yang membutuhkan pertolongan tersebut (ay.30-35). Ketika ahli Taurat tadi menyadari bahwa orang yang telah menaruh belas kasihan kepada korban itu telah menunjukkan kasih kepada sesama, Yesus pun mendorongnya untuk melakukan hal yang sama (ay.36-37).
Mengasihi sesama tidak selalu mudah atau menyenangkan. Namun, ketika Yesus melimpahi kita dengan kasihNya, Dia juga akan memampukan kita untuk mengasihi sesama kita, seperti yang dilakukan oleh orang Samaria yang baik hati dalam kisah di atas. Mengasihi sering terdengar di telinga kita maukah kita melakukan nya dalam keseharian kita.
Lukas 10:27-37 memuat perumpamaan Orang Samaria yang Murah Hati. Yang luar biasa dari kisah itu adalah tokohnya seorang Samaria, yang dianggap kaum buangan. Setelah Kerajaan Asyur menyerbu Kerajaan Israel di Utara, orang Israel setempat menikah dengan orang Asyur, sehingga melahirkan bangsa Samaria yang turunan campur ini. Meski dibenci oleh orang Yahudi, jelas orang Samaria dipedulikan oleh Yesus, terlihat dalam perumpamaan ini maupun dalam Yohanes 4:1-42 ketika Dia bertemu dengan seorang perempuan Samaria, dan juga dalam Lukas 17:11-19, ketika Dia menyembuhkan orang Samaria yang menderita kusta. Kepedulian Allah kepada orang Samaria hanyalah salah satu contoh betapa luasnya kasih Allah seperti dikatakan di Yohanes 3:16.
Tak perlu membenci dan kecewa mari sebagai anak anak Tuhan kita melakukan seperti orang samaria ini, kasih dan mengasihi menjadi bagian hidup yang terus bertumbuh.
Tak banyak orang yang mampu melakukan kasih ditengah persaingan hidup. Tetapi sebagai anak Tuhan kita mengerti kebenaran dan kita hidup dalam kebenaran, mari terus hidup dalam kasih dan mengasihi
Komentar
Posting Komentar