Sang Penjunan

 Yeremia 18:6

Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku.

Tanah liat itu menjadi siap dibentuk sesuai dengan sentuhan tangan sang perajin. Nabi Yeremia mengamati hal tersebut ketika ia berkunjung ke rumah seorang tukang periuk. Ia melihat sang perajin mengolah sebuah bejana dengan susah payah hingga akhirnya berhasil membentuknya kembali menjadi bejana yang baru (Yer. 18:4). Allah berkata kepada Yeremia, “Seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tanganKu” (ay.6).

Allah memang sanggup meninggikan atau menjatuhkan kita, tetapi tujuan utamaNya bukanlah untuk menguasai atau menghancurkan kita (ay.7-10). Sebaliknya, Dia laksana perajin terampil yang dapat mengenali apa yang telah rusak dan membentuk kembali gumpalan tanah liat yang sama hingga menjadi sesuatu yang indah dan berguna.

Tanah liat yang mendengarkan tidak memiliki andil dalam pekerjaan itu. Saat ditekan-tekan dan diolah, tanah liat akan bergerak mengikuti arah yang diinginkan sang perajin. Ketika dibentuk, tanah liat pun bertahan pada tempatnya. Pertanyaannya bagi kita adalah: bersediakah kita merendahkan diri “di bawah tangan Tuhan yang kuat” (1Ptr. 5:6) agar Dia dapat membentuk hidup kita menjadi seperti yang Dia inginkan?  Mari setiap kita penuh dengan kerendahan hati untuk Tuhan membentuk dsn membenahi hidup ini.

Sungguh bahaya jika kita mengira bahwa Allah dalam Perjanjian Lama adalah sosok yang pemarah dan suka menghakimi, sementara Allah dalam Perjanjian Baru itu penuh kasih, penyayang, murah hati, dan pengampun. Kita melihat banyak bukti tentang kasih karunia dan belas kasihan Allah di seluruh Perjanjian Lama. Allah berfirman melalui Nabi Yeremia, “Jika pada suatu waktu Aku memutuskan untuk merenggut, meruntuhkan dan menghancurkan suatu bangsa atau kerajaan, lalu bangsa itu bertobat dari dosanya, maka Aku akan membatalkan niatKu itu” (18:7-8 ). Ketika Yunus menyampaikan pesan pertobatannya kepada kota Niniwe yang bejat, penduduknya mengindahkan peringatan Allah dan kemudian diselamatkan (3:4-10). Dalam Kitab Yeremia, Allah menawarkan kesempatan serupa kepada Yehuda (18:11). Selain dua ini, masih banyak contoh perbuatan kasih dan belas kasihan Allah dalam Perjanjian Lama. Karakter Allah selalu konsisten karena begitu mengasihi anak-anakNya, Dia tidak membiarkan mereka terus-menerus berbuat dosa. 

Dalam kehidupan ini tak ada sesuatu yang lebih berharga selain dari kasih setia Tuhan Yesus, dengan anugerah kemurahan Nya memelihara kita, bahkan DIA menyelamatkan kita dari hukuman kekal, mari relakan hati untuk Tuhan membentuk kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perwujudan Dari Iman

Perkataan Yang Baik

Hal Yang Kecil