Memiliki Pengharapan Yang Sejati
Kejadian 23:2
Abraham datang meratapi dan menangisi Sara
Dalam Kitab Kejadian, kita melihat luapan emosi Abraham setelah kehilangan istrinya yang meninggal dunia. “Abraham datang meratapi dan menangisi Sara” (23:2). Bagian ini mengungkapkan kisah indah yang penuh duka tentang kepergian salah satu tokoh yang tak terlupakan dalam Alkitab: Sara, istri yang setia dari Abraham, sang wanita lanjut usia yang tertawa ketika mendengar kabar bahwa ia akan menjadi seorang ibu (18:11-12), tetapi menangis kesakitan saat melahirkan Ishak, putranya.
Dalam Injil Yohanes: “Maka menangislah Yesus” (Yoh. 11:35). Air mata Sang Mesias di depan makam Lazarus menekankan rasa kehilangan besar yang dialami Yesus. Mencintai memang menakutkan karena takut kehilangan, mencintai juga “sesuatu yang suci.” Terutama bagi mereka yang imannya “tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah” (Kol. 3:3). Mencintai Tuhan adalah hal yang istimewa dan suci.
Kehilangan dari pasangan hidup, anak-anak, orangtua, teman, mengalami semua itu, sangatlah manusiawi apabila kita menangis namun, bagi orang percaya, tangisan kita hanya berlangsung sementara, seperti yang dituliskan Daud, “Sepanjang malam ada tangisan, menjelang pagi terdengar sorak-sorai” (Mzm. 30:6). Allah Bapa kita tidak akan membiarkan kita kehilangan pengharapan.
Ketika membaca Kejadian 11, ia masih bernama Sarai, istri Abram, yang “mandul, tidak mempunyai anak” (ay. 30). Mereka tinggal di Ur-Kasdim di kawasan Sungai Efrat, yang, menurut temuan arkeolog, merupakan sebuah kota perdagangan yang makmur dengan perpustakaan besar. Ketika mertua Sarai, Terah, membawa seluruh keluarganya pergi (termasuk anaknya Abram, istri Abram, dan cucu Terah, Lot) menuju Kanaan, boleh jadi sulit untuk meninggalkan sanak saudara dan kenyamanan dari Ur-Kasdim yang makmur. Dari Ur, mereka tinggal di Haran, tempat Terah kemudian meninggal. Di sinilah Allah menyuruh Abram untuk pergi ke Kanaan, dan di sana Dia berjanji membuat Abram menjadi “bangsa yang besar” (12:2). Setelah melewati banyak salah langkah dan kemalangan, bertahun-tahun kemudian Abram dan Sarai yang telah tua (kini bernama Abraham dan Sara, 17:5,15) mengalami kebahagiaan karena memiliki Ishak, anak yang hadir sebagai penggenapan janji Allah (21:1-7). Sarah meninggal pada usia 127 tahun, dan Abraham “meratapi dan menangisinya” (23:2). Kita pun akan menghadapi kedukaan, tetapi Allah akan memberikan pengharapan dan penghiburan yang kita perlukan.
Kehidupan memang bisa dikatakan banyak yg tidak bisa diprediksi, kehilangan menjadi hal yang harus dihadapi manusia, tetapi sebagai orang percaya kita memiliki pengharapan yang sejati didalam Kristus, dan Tuhan Yesus yg selalu memberikan kekuatan dan kemampuan untuk menghadapi tantangan hidup
Komentar
Posting Komentar